Posted in Uncategorized

Saya ‘HANYA’ Ibu Rumah Tangga

Beberapa hari yang lalu, untuk kesekian kalinya saya mendapat semprotan halus dari salah satu orang dekat saya. Ungkapan itu tidak disampaikan secara langsung, sih, tapi melalui nenek saya. Kira-kira begini ucapannya “Kori itu, udah kuliah tinggi-tinggi tapi kok gakmau kerja, malah dirumah aja. Kan sayang ijazahnya.” *bernafas dulu

Dulu waktu masih awal-awal resign dari ngajar di sekolah, saya akan mencak-mencak dan menjelaskan panjang lebar saat ada orang yang bilang seperti itu kepada saya. Berbagai argumentasi seperti anak adalah titipan Allah dan investasi dunia akhirat saya, sampai alasan sekolah jaman sekarang yang cenderung banyak melencengnya, semua saya ungkapkan. Dan biasanya mereka akan jawab balik, bahwa lebih baik kalau saya kembali mengajar di sekolah, berkarir, mengumpulkan uang, menabung, demi masa depan yang lebih baik. Mungkin mereka iba denan keadaan saya yang rumahnya belum di plafon, belum punya kulkas, sementara suami saya kerjanya ‘tidak mapan’ dalam artian wiraswasta dan tidak bekerja pada sebuah perusahaan.

Tapi sekarang saya sudah hafal, bahwa biasanya orang yang bilang begitu adalah orang yang tidak menerima alasan. Pokoknya saya salah yaudah salah saja. Jadi, saat saya diceramahi begitu saya diam saja. Tiada guna menjelaskan, hanya buang- buang tenaga saja. Toh yang menjalani saya dan saya tahu apa yang saya mau. Selama tidak melanggar aturan agama, hokum Negara, dan tidak menyakiti makhluk lain, lanjut aja.

Nah kembali lagi ke masalah utama saya dianggap tidak bekerja saat saya ‘hanya leha-leha’ duduk hapean dirumah sambil merhatiin anak saya main sama temen-temennya. Beneran kah kalau saya kerja di sekolah saya lebih sukses secara financial? Dan saat saya dirumah saya menghasilkan lebih sedikit daripada waktu saya kerja disekolah? Sebenernya saya tidak terlalu suka menghitung apa yang saya lakukan dengan patokan uang, melainkan apa kata hati saya. Kalau dari awal patokan saya uang, saya jadi TKI saja, anak ditinggal sama mertua dan suami. Dengan kemampuan Bahasa Inggris saya, inshaAllah saya bias kirim minimal 5juta sebulan. Disini saya mau mencoba membandingkan pendapatan saya saat masih mengajar di sekolah dengan saat saya sudah resign, kalau memang itu yang mereka mau.

Tapi, sekali lagi, bukan uang patokan saya, karena itu saya memilih resign, juga memilih-milih murid les saya. Saya ini dirumah juga tidak nganggur-nganggur amat. Saya kerja jadi guru les privat setelah suami pulang kerja. Jadi Ali harus di estafet. Selain itu saya juga menulis artikel untuk teman saya yang bisa saya kerjakan dari rumah.

Setiap hari senin sampai jumat, saya ngelesi privat 2 sesi. Sesi sore setelah ashar dan sesi malam setelah maghrib. Masing-masing sesi 1,5 jam. Fee per sesi bervariasi antara 20.000 s/d 45.000. saya ambil rata-rata 25.000 per sesi karena ini yang paling banyak, jadi setiap minggu saya mendapatkan Rp25.000 x 2 sesi x 5 hari = 250.000/ minggu. Jika dalam satu bulan ada 4 minggu, pendapatan saya per bulan Rp1.000.000 atau Rp1.250.000 per bulan jika dalam 1 bulan ada 5 minggu. Itu hanya untuk jam kerja 3 jam sehari.

Selain ngeles privat, saya juga nulis artikel buat temen saya. Biasanya saya nglakuin job ini pas anak tidur atau dipagi hari setelah beres-beres sambil nungguin anak bermain. Per artikel, saya dibayar Rp20.000. Jadwal artikel ini tidak pasti, kadang saya hanya dapat jatah 2 artikel sehari, tapi bisa juga 5 – 6 artikel. Saya juga tidak setiap hari dapat job ini, tapi setelah saya rata-rata, saya bisa mendapatkan sekitar Rp50.000 per hari dengan jam kerja selama 2,5 jam. Dalam sebulan anggap saja saya Cuma dapat job 16 hari (minimal) jadi pendapatan saya dari nulis artikel totalya Rp50.000 x 16 = 800.000

Jika ditotal, pendapatan saya yang ‘HANYA’ ibu rumah tangga ini ‘Cuma’ Rp1.800.000 s/d 2.050.000 perbulan untuk jam kerja 5,5 jam perhari untuk 16 hari dan 3 jam sehari untuk 14 hari sisanya dan bisa disambi. Saya tidak butuh uang transport karena kerjanya di wajak wajak sini saja.
Sekarang saya akan hitung pendapatan saya kalau saya masih mengajar di sekolah.

Di sekolah saya yang terakhir saya digaji Rp35.000 per pertemuan durasi 1 jam. Dalam satu bulan, saya bisa mengantongi Rp280.000 karena saya cuma dapat 2x pertemuan perminggu. Anggap saja bensin yang saya perlukan untuk kesekolah sehari adalah 10.000. Dalam sebulan bensin yang saya perlukan adalah 80.000. Sisa bersih tinggal 200.000. Mengajarnya memang Cuma 1 jam, tapi perjalanan PP ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 20km menghabiskan waktu 1 jam. Berarti jam kerja saya bisa dibilang 2 jam. Belum lagi saya mengajar di hari senin dan selasa sore sehingga pada malam hari saya tidak bisa ngelesi privat. Akibatnya saya Cuma bisa ngelesi hari rabu-jumat. Jika ditotal dari ngelesi saya dapat 50.000×3 hari= 150.000 perminggu. Berarti 600.000/bulan – 750.000 perbulan tergantung jumlah minggu perbulan. Jika ditotal, pendapatan saya saat masih kerja disekolah adalah 800.000 s/d 950.000 perbulan.

Jika saya bekerja disekolah, mengerjakan artikel dirumah akan terasa sulit karena banyak hal administrasi dan tetek bengek yang harus saya siapkan saat dirumah. Badan juga sering terasa capek dan kelelahan setelah perjalanan dari dan menuju sekolah, jadi setidaknya saya perlu 1 jam tambahan untuk ustirahat. Belum lagi, saya harus menitipkan anak saya pada orangtua Karena saya harus berangkat sebelum suami saya pulang.

Tapi sekali lagi, yang paling penting bukan uangnya, walaupun jelas itu adalah salah satu tolak ukur. hanya salah satu, bukan segalanya. Saya beberapa kali menghentikan kontrak les karena saya rasa murid saya sebenarnya kurang bersemangat dan hanya datang les karena takut dimarahi mamanya. Disitu saya merasa berdosa karena memakan uang fee les, tapi merasa tidak membekali ilmu yang mumpuni untuk murid saya tersebut. Padahal dia berani bayar mahal banget lo, tapi toh saya stop juga.

Bagi saya yang penting adalah saya tetap bisa mengamalkan ilmu saya dengan bahagia, sesuai hati nurani saya. Yang mau tetap nyinyirin hidup saya monggo.. itu sih masalah lu. Toh suami saya mendukung keputusan saya kok. hehehe

Advertisements
Posted in Uncategorized

Dibalik Nama Anak Pertamaku (part 2)

Nah melanjutkan postingan sebelumnya, dibalik nama anak pertamaku (part 1)   begini kisahnya kenapa saya akhirnya memilih nama Mustafa Ali yang disarankan bapak saya:

(Saya pakai God PoV aja ya biar gak mbulet)

Selasa malam rabu saya berkali-kali terbangun saat tidur soalnya merasa perut mules walaupun tertahankan. Saya putuskan untuk tidak memberitahu siapapun kecuali suami saya.
Hari rabu pagi, bapak saya ke tegal di daerah lereng Gunung Semeru, lalu di siang hari beliau merasa dibisikin “Mustafa Ali” secara berulang. Dari situ, bapak menyimpulkan bahwa saya sudah mau lahiran dan segera pulang.
Rabu malamnya saya melahirkan. Ceritanya bisa dibaca disini.
Hari kamis saya upload foto anak saya di facebook, dan salah satu temen (temen tapi adek) kirim pesan di inbox fb. “Sudah dikasih nama belum mbak?” Saya jawab aja belum.

Saya lupa hari apa, tapi setelah kejadian di atas terjadilah pernincangan berikut antara saya dan Bapak (aslinya Bahasa Jawa)

Bapak : Namanya Mustafa Ali

Saya : Hloooo!!! (Kecewa pol) lha aku lo kepingin nama Jawa! Wes apa deh Jawanya dari Mustafa Ali? Owalah (saya bener-bener kecewa. Gimana enggak? Nama sudah dipikirkan lama banget eh tau2 ada yang mendikte begitu)

Bapak : ya terserah mau dipake apa enggak. Pokok aku dengernya gitu.

 

Dan bapakpun pergi.

 

Saya benar-benar sakit hati saat itu. Tapi saya menyadari, saya memilih nama hanya memilih saja, sedangkan bapak pastilah sudah berpuasa dan melakukan riyadhoh. Akhirnya dengan berat hati saya iyakan walaupun tetap saja dongkol.

 

Beberapa hari kemudian saya buka facebook lagi, dan ternyata Dek Nida sudah bales pesan saya.

“Mbak, nama anak e samean Mustafa, artinya yang terpilih. Mustafa izzat juga bagus. Azzam juga bagus.”

Whoaaa ini anak kok bilang begitu? Langsung saya bales.

“Wah pilihanmu kok sama kayak yang didapetin bapak? Iya nama anakku Mustafa Ali. ‘Aliyyun’ yang artinya tinggi”

Dan dia jawab,”nggak tahu, lha hasil istikharohku begitu.”

Daaaan begitulah hati saya terbuka dan saya terima dengan lapang dada bahwa nama anak saya adalah Mustafa Ali yang berarti “orang yang terpilih dan  luhur”.

 

EPILOG

Ali sudah berusia 4 bulan waktu itu dan saya bawa untuk dadah (bahasa kerennya massage) di dukun pijit saya waktu saya masih kecil dulu, Mbok Pat. Sebelum Mbok Pat memulai, beliau menanyakan nama Ali dan wetonnya. “Mustafa Ali mbok..” Dan beliau membaca doa, sholawat, dan beberapa surat pendek. Beberapa waktu berlalu dan Mbok Pat memecah keheningan “iki jenenge wes cocok. Cocok mbek arek e, cocok mbek weton e, cocok mbek watek e arek e. Wis gak kenek diobah ongkrek maneh” (ini namanya si anak sudah cocok. Cocok dengan anaknya, dengan wetonnya, dengan wataknya. Sudah tidak bisa diganggu dan dirubah-rubah lagi).

Saya dan suamipun tersenyum.

 

*Terimakasih banyak bapak yang sudah menamai Ali, Dek Nida yang walaupun sudah lama tidak ketemu masih nyempatkan sholat istikharoh demi anakku).

dibalik nama anak pertamaku (part 1) dibalik nama anak pertamaku (part 1)