Posted in Serba-serbi

Dibalik Nama Anak Pertamaku (part 1)

Shakespeare bilang “apalah arti sebuah nama”, tapi sejatinya menurut saya nama adalah do’a. Mungkin itu sebabnya saat masih hamil, sebagaimana bakal orangtua baru pada umumnya, saya kemaruk untuk cari-cari nama yang keren wal kece untuk anak saya.

Pokoknya saya pinginnya nama anak saya yang jawa-jawa gitu deh, beda dengan temen-temen saya umumnya yang pakai bahasa luar negeri semacam Bahasa Jepang, Yunani, Arab, atau Inggris. Sempat sih berpikir untuk namain anak saya Mashudul Haq dari Bahasa Arab yang artinya Pembela Kebenaran, tapi tidak jadi.
Langkah awal yang saya tempuh adalah google nama-nama tokoh pewayangan. Setelah baca kisah dan asal usul para tokoh, ada dua nama yang jadi pertimbangan, yaitu Yudistira dan Wibisono.
Seperti semua pengikut pewayangan tahu, Yudistira adalah kakak tertua dari pandawa. Secara sikap dia adalah orang yang jujur, berbudi luhur, berotak cerdas, tangguh dalam bertarung, pokoknya sip banget deh. Tapi dia punya satu kelemahan, yakni suka bermain dadu. Bahkan saat ditantang bermain dadu oleh Duryudhana nya Kurawa, dia sampai menjadikan negaranya, saudara Pandawa, dan istrinya sebagai taruhan. Nah karena alasan ini saya tidak jadi memilih nama Yudistira untuk anak saya. Lha kalau yang keluar sifat baiknya sih gakpapa, lha kalau suka main dadunya? Syusyah si emak.
Sedangkan Wibisono adalah adik dari Rahwana, raja Alengka. Sebagai adik dari raja yang matanya digelapkan oleh iri dan dengki, dia akhirnya memilih untuk menyeberang ke sisi Rama secara jantan. Karena itulah saya suka nama Wibisono ini; saya berharap anak saya akan tahu mana yang benar dan yang salah, lalu pada akhirnya memihak yang benar.    Karena bingung akan ditambah apa nama Wibisono ini, saya akhirnya menambahkan Kaka didepannya menjadi Kaka Wibisono. Kaka sendiri adalah singkatan dari inisial nama saya dan suami.
Nama lain yang saya persiapkan adalah Singgih Pangestu yang artinya bersungguh-sungguh dan direstui, dan Bekti Ing Gusti yang artinya taat kepada Alloh. Bukan Taat Pribadi lho ya. Hahaha..
Keseluruhan, saya paling sreg dengan nama yang terakhir, yaitu Bekti ing Gusti, karena sejujurnya doa pertama saya untuk anak saya adalah agar dia dijadikan orang yang taat pada Gusti Alloh.
Tapi apa daya, rencana tinggal rencana. Pada akhirnya bukan ketiga nama tersebut yang saya pakai, tetapi nama pilihan Bapak saya yaitu Mustafa Ali. Bagaimana bisa saya akhirnya memilih nama itu? Silahkan baca bagian selanjutnya ya karena kayaknya post ini sudah kepanjangan.
Advertisements

2 thoughts on “Dibalik Nama Anak Pertamaku (part 1)

  1. Ya ampuun Choir,, aku suka sama bahasa kamu yang lucu… Wibisono iku yo jenenge masku, tapi aku kaget setengah mati waktu kamu nambahin kata ‘Kaka’ untuk nama anakmu ,,,
    Semoga dia jadi anak yang soleh,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s