Posted in Serba-serbi

Kepastian Dalam Hidup (Belajar Dari Korban Meninggal Pesawat TNI AU)

Arif Fajar Prayogi. Itu nama lengkapnya. Dia kakak kelas saya waktu SMA. Saya kelas 1, dia kelas 3. Saya tidak pernah kenal dia secara personal, tapi saya dulu ngefans banget sama mas ini. Sebagai kakak pendamping MOS, dia gak pernah bentak-bentak galak kayak pendamping lainnya. Setelah MOS berakhir pun seringkali dia menjawab ramah saat disapa (walopun saya yakin dia gak pernah tau siapa saya). Lagipula, dia mirip sama Anu.

Nah hari ini, saya dapat berita kalau mas Arip ini meninggal dalam kecelakaan pesawat hercules TNI di Wamena (berita bisa dibaca disini)  Memang mas Arip ini anggota TNI AU. Waktu saya kelas 3, dia dan satu temannya pernah ngunjungin kelas saya dan sosialisasi tentang Akademi AU Yogyakarta.
Tapi bukan ini inti dari tulisan saya kali ini. Kejadian tentang mas Arip ini hanya pemicu pemikiran-pemikiran saya selanjutnya. 
Mendengar kabar duka ini, saya  tiba-tiba teringat pesan nenek saya pada cucu-cucu perempuannya: carilah jodoh yang punya pekerjaan mapan, gaji yang bagus, sukur-sukur kaya dan punya derajat yang tinggi. Saat beliau ngomong begitu, saya GR bahwa sayalah yang sebenarnya diberi petuah. Pacar saya waktu itu kerja serabutan, jadi kuli bangunan pernah, kerja di pabrik pernah, jadi staff laundry pernah juga.  Mungkin dimata orang zaman dulu, pekerjaan tetap dan mapan itu yang jadi PNS, kerja di bank, jadi aparat, atau minimal kerja di pabrik atau minimarket franchise lah. 
Saya ingat saat itu saya membantah, “kerjaan mapan itu yang bagaimana Mbah? Gayus itu kurang mapan apa? Sekarang juga jeblok. Apa harus PNS begitu? Wong saya juga tahu sendiri para PNS itu SK nya pada sekolah di bank tapi gak lulus-lulus.” Tapi namanya orangtua, tetap saja ngotot.
Begitu pula dengan Mas Arip ini. Karirnya tok cer, gajinya saya yakin bisa 5-10 kali lipat dari gaji saya. Belum lagi prestis pekerjaan nya yang luar biasa. Tapi apa semua itu merupakan kepastian bahwa semua akan berjalan lancar-lancar saja bagi semuanya? Tidak. Sekali lagi saya diingatkan Alloh bahwa hidup ini tidak pasti.
Hal kedua yang nyeplos di hati saya dengan berita ini adalah: akhir-akhir ini banyak pemuda meninggal. Zaman saya masih kecil, biasanya orang meninggal itu orang-orang tua, atau sesekali bayi (na’udzubillah min dzallik). Tapi dalam jangka waktu 2 atau 3 bulan ini, di desa Wajak yang ndeso ini banyak pemuda meninggal. Ada adik kelas saya yg belum menikah, si Uus, lalu 3 pemuda yang meninggal karena oplosan minuman, lalu teman MI saya si Zai. Itu belum termasuk berita duka di fb tentang meninggalnya kakak tingkat kuliah yang dulu ngospekin saya. Penyebabnyapun beragam, ada yang sakit diabetes, keracunan minuman keras oplosan, post partum trouble alias masalah pasca kelahiran, dan jatuh di kamar mandi. Padahal, zaman dahulu orang kalau tidak meninggal karena sakit, ya karena tua. Alloh mengingatkan lagi bahwa yang meninggal tidak selalu yang tua saja.
Yang ketiga, saya hampir tidak kuasa membendung air mata jika membayangkan apa yang dipikirkan, diingat, disesali, dan dikenang oleh mas Arip menjelang ajalnya. Apakah anak dan istrinya, orangtuanya? Kesalahan masa lalunya? Kenangan indah bersama keluarganya? Rasa tidak siap atau malah rasa ikhlas akan bertemu dengan Sang Penciptanya? Lalu apa yang dilakukannya saat itu? Berusaha memperbaiki pesawat? Melompat dengan parasut? Atau berpegangan tangan dengan rekan-rekannya sambil berdoa?  Apakah meninggalnya cepat sehingga dia tidak sempat merasa sakit atau .. ? (Sudah saya tidak bisa melanjutkan lagi)
Subhanalloh, sungguh dari satu peristiwa ini saya telah diingatkan pada banyak hal, terutama terhadap tidak pastinya kehidupan ini. Mengingat saya bisa dibilang tidak kenal sama sekali dengan kakak kelas saya ini, betapa besarnya pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian kecelakaan yang dialaminya. Semoga keluarga diberi ketabahan, dan semoga almarhum diampuni segala dosanya dan diterima semua amal ibadahnya. Amin ya Robbal ‘alamin.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s