Posted in Serba-serbi

Pengalaman Ujian Toefl di Azet Language Center Malang

Assalamu’alaikum wr.wb.

Hai semuanya, apa kabar? Kali ini saya mau membagikan cerita saya dalam menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) ITP di Malang.
Waktu itu akhir tahun 2015. Saya lupa tanggal pastinya, tapi saya akhirnya memutuskan untuk mengambil ujian TOEFL karena berencana melamar beasiswa pada tahun 2016.   Saya ingin daftar beasiswa LPDP, AAS, dan NZ Aid.
Di Malang ada beberapa tempat yang bisa jadi alternatif untuk mengambil tes TOEFL ITP, diantaranya Azet Language Center (ALC) yang telah saya pilih. Alasan saya memilih ALC adalah karena dulu saya pernah nyoba Tes Bahasa Inggris setara TOEFL disana (pada 2013 biayanya Rp50.000) dan Karena ALC termasuk dalam daftar tempat tes yang direkomendasikan beasiswa AAS.
Awalnya, saya telepon ke kantor ALC dan menanyakan jadwal tes TOEFL. Tapi sayangnya pada bulan Desember 2015 itu kuota tes sudah penuh. ALC sendiri mengadakan 1x tes TOEFL ITP setiap bulannya dengan kuota terbatas, jadi kalau anda mau daftar belum tentu bisa langsung. Lalu nomor saya dicatat pihak ALC untuk dihubungi jika jadwal tes selanjutnya sudah keluar.
Akhir Desember saya disms mbak Dian perihal jadwal tes bulan Januari. Sayapun mendaftar dan mentransfer uang pendaftran sebesar Rp500.000.
Hari ujianpun tiba. Saya berangkat bareng suami yang saat itu ada perlu ke percetakan Aloha didepan ALC.
Setidaknya saya harus mendapat nilai TOEFL 550 untuk bisa memenuhi syarat beasiswa yang saya inginkan diatas. Meskipun begitu, saya benar-benar tidak punya persiapan khusus. Dengan membawa pensil 2B, penghapus, fotokopi KTP dan pasfoto, saya menitipkan Ali ke ibu saya.
Saya datang di ALC 30 menit sebelum ujian berlangsung. Saya langsung digiring untuk mengisi data diri di selembar kertas yang akhirnya disobek menjadi 2; satu untuk pihak ALC, dan satu untuk peserta yang nantinya digunakan untuk mengambil sertifikat.
Ujianpun dimulai seperti biasa, diawali dari pembacaan peraturan, mengisi data diri, lalu mengerjakan soal dari Listening section, structure and written expression section, sama terakhir reading section. Semuanya alhamdulillah berjalan lancar, walopun dalem ruangan saya kangen terus sama anak yang masih unur 6 bulan. Hahaha
Setelah ujian, nilai tidak bisa langsung diketahui. Nilai dan sertifikat TOEFL akan diberikan 10-14 hari setelah tes dilakukan.
Sekitar 1 minggu setelah ujian saya di SMS mbak Dian yang menginformasikan nilai TOEFL saya dan bahwa sertifikat sudah bisa diambil. Berapa nilainya? Alhamdulillah, mencukupi untuk mendaftar beasiswa.
Berikut saya berikan alamat AZet Language Centre:
AZET LANGUAGE CENTRE
Jl.Galunggung 39. Malang 65115.
Telp : 0341-571782/ 551537
 
 
Advertisements
Posted in Serba-serbi

Kepastian Dalam Hidup (Belajar Dari Korban Meninggal Pesawat TNI AU)

Arif Fajar Prayogi. Itu nama lengkapnya. Dia kakak kelas saya waktu SMA. Saya kelas 1, dia kelas 3. Saya tidak pernah kenal dia secara personal, tapi saya dulu ngefans banget sama mas ini. Sebagai kakak pendamping MOS, dia gak pernah bentak-bentak galak kayak pendamping lainnya. Setelah MOS berakhir pun seringkali dia menjawab ramah saat disapa (walopun saya yakin dia gak pernah tau siapa saya). Lagipula, dia mirip sama Anu.

Nah hari ini, saya dapat berita kalau mas Arip ini meninggal dalam kecelakaan pesawat hercules TNI di Wamena (berita bisa dibaca disini)  Memang mas Arip ini anggota TNI AU. Waktu saya kelas 3, dia dan satu temannya pernah ngunjungin kelas saya dan sosialisasi tentang Akademi AU Yogyakarta.
Tapi bukan ini inti dari tulisan saya kali ini. Kejadian tentang mas Arip ini hanya pemicu pemikiran-pemikiran saya selanjutnya. 
Mendengar kabar duka ini, saya  tiba-tiba teringat pesan nenek saya pada cucu-cucu perempuannya: carilah jodoh yang punya pekerjaan mapan, gaji yang bagus, sukur-sukur kaya dan punya derajat yang tinggi. Saat beliau ngomong begitu, saya GR bahwa sayalah yang sebenarnya diberi petuah. Pacar saya waktu itu kerja serabutan, jadi kuli bangunan pernah, kerja di pabrik pernah, jadi staff laundry pernah juga.  Mungkin dimata orang zaman dulu, pekerjaan tetap dan mapan itu yang jadi PNS, kerja di bank, jadi aparat, atau minimal kerja di pabrik atau minimarket franchise lah. 
Saya ingat saat itu saya membantah, “kerjaan mapan itu yang bagaimana Mbah? Gayus itu kurang mapan apa? Sekarang juga jeblok. Apa harus PNS begitu? Wong saya juga tahu sendiri para PNS itu SK nya pada sekolah di bank tapi gak lulus-lulus.” Tapi namanya orangtua, tetap saja ngotot.
Begitu pula dengan Mas Arip ini. Karirnya tok cer, gajinya saya yakin bisa 5-10 kali lipat dari gaji saya. Belum lagi prestis pekerjaan nya yang luar biasa. Tapi apa semua itu merupakan kepastian bahwa semua akan berjalan lancar-lancar saja bagi semuanya? Tidak. Sekali lagi saya diingatkan Alloh bahwa hidup ini tidak pasti.
Hal kedua yang nyeplos di hati saya dengan berita ini adalah: akhir-akhir ini banyak pemuda meninggal. Zaman saya masih kecil, biasanya orang meninggal itu orang-orang tua, atau sesekali bayi (na’udzubillah min dzallik). Tapi dalam jangka waktu 2 atau 3 bulan ini, di desa Wajak yang ndeso ini banyak pemuda meninggal. Ada adik kelas saya yg belum menikah, si Uus, lalu 3 pemuda yang meninggal karena oplosan minuman, lalu teman MI saya si Zai. Itu belum termasuk berita duka di fb tentang meninggalnya kakak tingkat kuliah yang dulu ngospekin saya. Penyebabnyapun beragam, ada yang sakit diabetes, keracunan minuman keras oplosan, post partum trouble alias masalah pasca kelahiran, dan jatuh di kamar mandi. Padahal, zaman dahulu orang kalau tidak meninggal karena sakit, ya karena tua. Alloh mengingatkan lagi bahwa yang meninggal tidak selalu yang tua saja.
Yang ketiga, saya hampir tidak kuasa membendung air mata jika membayangkan apa yang dipikirkan, diingat, disesali, dan dikenang oleh mas Arip menjelang ajalnya. Apakah anak dan istrinya, orangtuanya? Kesalahan masa lalunya? Kenangan indah bersama keluarganya? Rasa tidak siap atau malah rasa ikhlas akan bertemu dengan Sang Penciptanya? Lalu apa yang dilakukannya saat itu? Berusaha memperbaiki pesawat? Melompat dengan parasut? Atau berpegangan tangan dengan rekan-rekannya sambil berdoa?  Apakah meninggalnya cepat sehingga dia tidak sempat merasa sakit atau .. ? (Sudah saya tidak bisa melanjutkan lagi)
Subhanalloh, sungguh dari satu peristiwa ini saya telah diingatkan pada banyak hal, terutama terhadap tidak pastinya kehidupan ini. Mengingat saya bisa dibilang tidak kenal sama sekali dengan kakak kelas saya ini, betapa besarnya pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian kecelakaan yang dialaminya. Semoga keluarga diberi ketabahan, dan semoga almarhum diampuni segala dosanya dan diterima semua amal ibadahnya. Amin ya Robbal ‘alamin.
Posted in Serba-serbi

Ajak Anak Bermain di Kiddy Playland Matos

Halo assalamu’alaikum semuanya,

Hari ini saya mau berbagi pengalaman bawa anak bermain di salah satu arena bermain anak (playground) di Malang, yaitu Kiddy Playland. Foto-foto saya taruh di bawah ya..

Berawal dari kepoin temen FB yang upload foto anaknya lagi main di playground, saya jadi kepingin juga bawa Ali ke playground. Kalau di Malang, yang saya tahu ada2 pilihan, yaitu di Matos dan MOG (Mal Olympic Garden). Berbekal tanya-tanya ke teman yang sudah pernah, saya akhirnya memutuskan untuk ke Matos. Mungkin kapan-kapan bakal coba ke MOG juga.

Kiddy Playland ada di lantai 2 Matos, satu lantai dengan foodcourt dan Timezone.  Untuk masuk kesana pengunjung harus bayar Rp25.000/ anak/ 30 menit atau Rp35.000/anak/jam. Orangtua bisa nemenin anaknya masuk. Walaupun disitu ditulis 1anak 1 pendamping, tapi saya tanya mbaknya apa Bapaknya Ali boleh ikut masuk dan kata mbak yang jaga boleh,jadi kami masuk bertiga deh.

Pas masuk, Ali masih ndlahom aja, emang dasar anaknya butuh beberapa saat (agak lama) buat adaptasi (kayak Ibuknya). Baru setelah sekitar 15 menit dia mulai main sepeda.

Di dalem Kiddy Playland ada berbagai macam mainan mulai dari mobil-mobilan little tikes yang unyu (Ibuknya Ali pengen banget beliin ini tapi mohoolll), sepeda, kuda-kudaan, prusutan, mandi bola (bola dicuci dan disterilkan setiap 2 minggu sekali), rumah boneka plus bonekanya, trampolin, Play station, sampai flying fox.  Khusus untuk flying fox nanti ada petugas yang bakal nemenin anak-anak, jadi gausah hawatir.

Pelayanannya saya bilang cukup bagus ya, jadi kalo ada anak yang mainin mobil atau motor terus ditinggal gitu aja ditengah jalan bakal dipinggirin sama petugasnya biar gak nyandungin anak lain.

Akhirnya, si Ali seneng banget main disitu. Gak terasa waktu 1 jam udah berlalu. Untungnya Ali juga udah capek (habis manjat-manjat di area outbond) jadi waktu diajak pulang dia ayuk-ayuk aja.

Apa suatu saat saya akan kesini lagi? Mungkin aja. Tapi mau coba yang di MOG dulu. Hehehe..

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.