Posted in saya guru, Serba-serbi

Sudah Pesan, Tidak Mau Bayar, Mencaci Maki Pula

pernah berbisnis online tidak pemirsa? saya pernah,tapi bukan berjualan seperti pada umumnya, saya menawarkan jasa membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) mata pelajaran Bahasa Inggris.Dengan modal pasang iklan di Tokobagus dan Tokopedia, saya memulai karir sampingan ini.

sudah beberapa kali ada mahasiswa atau guru pesan RPP ke saya, dan Alhamdulillah cocok. bahkan tidak jarang ada yang balik lagi dan akhirnya jadi langganan. Tapi pengalaman yang kemarin benar-benar bikin sakit hati. Betapa tidak, ujug-ujug ada seseorang yang pesan RPP ke saya, minta jadi dalam semalam, tidak bayar-bayar walaupun sudah ditagih 3 kali, lalu terakhir saya dicaci maki pula. ahhh.. nyesek dipojokan. begini cerita selengkapnya.

sekitar 2 minggu yang lalu si A sms ke saya minta dibuatkan RPP skill listening untuk kelas XI SMK. dia bilang untuk micro teaching, dan butuh secepatnya. jam 1 siang itu, dia sms minta RPPnya jadi keesokan harinya. ‘baiklah kalau begitu’ dalam hati saya menggumam. walaupun biasanya pesanan RPP jadi tiga hari, karena kesibukan saya yang lain, tapi kali ini saya relakan biar jadi sehari dan saya kasih tarif biasa, 25.000

hari berikutnya, RPP sudah saya kirim via email ke si A. kemudian si A bilang akan mengirim uangnya segera. tapi ternyata sampai hari berikutnya belum juga dikirim. juga  hari berikutnya. dia terus saja berjanji akan mengirim pada hari selanjutnya, dua hari lagi, dan sebagainya. total ada tiga kali saya tagih dalam waktu 2 minggu. tapi tetap saja si A tidak mentransfer uang yang Rp25.000 itu.

akhirnya, saya sebal dan menyerah. saya SMS si A dengan sedikit pesan yang mungkin menyinggung bagi dia:

“sudah mbak ndak usah anda transfer uangnya. saya sarankan anda ndak usah jadi guru kalo gak bisa tepatin janji. kasian muridnya, soalnya guru kencing berdiri murid kencing berlari. semoga keluarga, anak, adik, orangtua mbak tidak mengalami seperti yang saya alami”

saat menulis pesan itu, saya benar-benar sedang memikirkan apa yang akan terjadi jika si A menjadi guru. seperti pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari, bisa dibayangkan kalau gurunya tidak bertanggung jawab, muridnya akan lebih parah lagi. saya disini sedang memperbaiki moral, eh ditempat yang lain ada yang tidak memperdulikan moral. rasanya cekit cekit kayak ditusuk jarum. hehe

beberapa saat kemudian, saat saya cek HP, ternyata sudah ada SMS dari si A yang isinya mencaci dan menjelekkan RPP buatan saya.

“mau jd guru ap ndak tu urusn sya nti. wong RPP buatanmu tu blm sempurna masih 0 nilainya. RPP jaman sekarang tu pake bahasa inggris. materinya juga biasa az gd yg istimewa. klah sma pny tman2 sya. lgian sya mlh te2p bkin rpp sndiri. skillny g jlas msih cmpur antra reading sma listening. mau brp pun wktny bsa2 az. trgntug bgmna mngtur wktnya (maksudnya alokasi waktu untuk mengatur kegiatan di kelas)”

deng dong!! “sudah mbak, jangan jadi guru!!” batin saya. sepertinya memang kurang tepat kalau jadi guru (dalam hati tapi.hahaha)

sebelum saya lanjutkan, ada beberapa klarifikasi yang mau saya sebutkan sehubungan dengan cacian si A tersebut:

  1. RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dibuat sebagai acuan jalannya pembelajaran. RPP digunakan sebagai pegangan agar pembelajaran bisa berjalan optimal dan tidak melenceng. selain itu, RPP juga digunakan saat guru yang bersangkutan tidak bisa hadir mengajar, jadi RPP diberikan ke guru piket untuk dijalankan oleh guru piket.

tidak ada aturan khusus mengenai format RPP, atau bahasa apa yang harus digunakan dalam RPP. selama di dalam RPP ada Indikator, Tujuan pembelajaran, materi, dan kegiatan pembelajaran, itu sudah bisa dianggap sebagai RPP walaupun masih kasar. bahkan coret-coretan yang kita buat untuk merencanakan pembelajaran di esok hari pun sudah bisa dibilang RPP kasar. kalau mau yang sempurna, ditambahkan kompetensi inti, kompetensi dasar, penilaian, dan lampiran-lampiran.
si A menganggap RPP saya gak modern karena menggunakan Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. dalam hal ini, saya mempertimbangkan bahwa RPP harus bisa dimengerti oleh guru piket yang akan menggantikan si guru saat dia tidak masuk atau berhalangan mengajar. seperti semua orang tahu, tidak semua orang mengerti bahasa inggris. kalau RPP dibuat dalam Bahasa Inggris, guru penjaskes, matematika, kesenian, dan guru lain yang bukan guru bahasa inggris dimungkinkan tidak mengerti RPP yang dibuat.

dari sini saya juga miris, karena ternyata orang-orang menganggap bahwa bahasa Inggris itu modern, sedangkan Bahasa Indonesia kuno. (peluk bendera merah putih)

  1. saat mengirim RPP pada si A, saya melampirkan catatan yang isinya menyebutkan bahwa RPP ini ‘dianggap’ digunakan saat pertemuan pertama. direncanakan materi yang sama akan diajarkan dalam 2 atau 3 pertemuan.
    karena ini adalah pertemuan pertama untuk materi yang baru, jadi saya beri video youtube tentang materi yang isinya basic. juga saya lampirkan materi podcast dari eslpod.com yang sudah saya edit. tapi ternyata si A menganggap materi yang saya berikan biasa banget.
    untuk pertemuan pertama, kalau saya..(kalau saya lo ya) tidak akan memberi materi yang terlalu kompleks, terutama untuk waktu yang sangat terbatas yaitu 30 menit. ibaratnya 20 menit pertama adalah untuk mengenalkan materi, dan menarik minat siswa. kalau materinya langsung yang kompleks, bisa dibayangkan siswa akan ngantuk, malas, dan sebagainya.
  2. si A menganggap skill yang saya pakai di RPP tidak jelas antara reading dan listening. satu hal yang ingin saya teriakkan pada si A “ANDA TIDAK TAHU INTEGRATED SKILL???
    integrated skill adalah penggunaan 2 skills atau lebih dalam menggunakan bahasa. dalam bahasa, ada 4 skill yang dikembangkan yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis. tidak mungkin kita berbicara tanpa mendengar, atau menulis tanpa membaca. dalam RPP yang saya buat, skill yang saya integrasikan adalah listening (saat mendengar podcast dan video), reading (soal yang saya berikan dalam bentuk bacaan, kemudian diberi beberapa jeda kosong dimana siswa harus mengisi jeda tersebut dengan kalimat yang mereka dengar), writing (saat siswa menulis jawaban di lembar soal), dan speaking (saat mendiskusikan hasil pekerjaan). kalau memang si A minta yang listening murni,mungkin dia bisa meminta muridnya mendengarkan podcast, tanpa menulis sama sekali, tanpa berbicara sama sekali, dan tanpa membaca sama sekali. suruh siswa masuk kelas, putarkan kasetnya, biarkan mereka mendengarkan, sudah selesai, suruh mereka keluar kelas.
  3. si A menganggap RPP saya yang saya beri alokasi waktu itu jelek. sekali lagi, fungsi dari RPP adalah acuan. jika ada alokasi waktu yang dicantumkan, maka itu akan membantu guru agar tetap on the right track, walaupun tetntu saja alokasi waktu itu tidak harus diikuti dengan persis, melainkan disesuaikan dengan kondisi kelas. tidak bagus bukan kalau pembelajaran yang direncanakan tigapuluh menit malah molor atau selesai sebelum wakt habis?

setelah sms itu, saya berusaha sms si A,menanyakan dari mana dia dapat sumber kalau RPP harus dalam bahasa inggris, juga apakah dia tahu tentang integrated skill. Saya juga menyarankan padanya untuk belajar membuat RPP kalau ingin jadi guru. selain itu dia juga mencaci saya dia bilang saya kuno, lulusan jaman batu, RPP saya jelek dan tidak layak jual dan sebagainya. saya sudah berusaha menjawab dengan diplomatis bahwa seharusnya kalau si A memang tidak suka dengan RPP buatan saya, seharusnya dia bilang segera setelah menerima dan membaca RPP yang saya kirim. tapi dia malah makin mencaci saya mengatakan bahwa dia bisa membuat RPP yang jauh lebih bagus dari saya, dan “grammatically correct” begitu katanya. jadi apa Negara ini kalau gurunya berakhlak seperti itu. *mengelus dada*di akhir-akhir SMSan, dia mengaku bahwa dia mahasiswa PBI dan pesan RPP untuk tugas kuliah (sumpah saya pikir untuk micro teaching tes kerja).

di akhir-akhir sms, saya merasa offended karena dia membawa-bawa nama almamater saya. saya sms dia dalam bahasa inggris, yang intinya, kalau memang dia tidak suka dengan rpp buatan saya tidak apa-apa, mungkin memang standar bagus kami berbeda. lalu betapa terkejutnya saya saat dia menjawab dengan bahasa inggris campur indonesia, dan ternyata dalam 1 pesan dia melakukan 2 kesalahan mencolok  yaitu: “i already made by myself” bukannya “I already made one myself” dan yang satunya lagi adalah “seseorang yang punya high qualified seperti saya” bukannya “high quality” atau “high qualited“. mungkin tu yang dia anggap grammatically correct.

saya tutup sms dengan kalimat “thanks you’ve just made my day. you’re so funny. GBU” dan saya tertawa dan tersenyum dalam hati.

satu hal yang saya yakini, Tuhan saya Maha Adil. Dalam hati saya benar-benar berdoa, semoga si A mendapat pekerjaan lain yang bukan guru, kalau memang dia tidak bisa berubah. Saya benar-benar tidak ingin melihat Indonesia saya semakin terpuruk dengan adanya guru-guru yang ‘kencing berdiri’. kalau gurunya saja ingkar janji, muridnya mau jadi apa??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s